RSS

BIOKONVERSI INULIN DARI UMBI DAHLIA (Dahlia sp. L) MENJADI ETANOL SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIOETANOL

16 Mei

Tanaman Dahlia (Dahlia sp L)

Meningkatnya pemanfaatan sumber energi minyak bumi saat ini dapat mengakibatkan berkurangnya cadangan minyak bumi dunia. Keterbatasan cadangan sumber energi berbahan dasar minyak bumi dapat memicu manusia untuk mendapatkan alternatif sumber energi baru sebagai penggantinya. Beberapa negara seperti Brazil dan negara di Amerika Selatan, berhasil mengolah limbah tetes tebu, kemudian Jepang sukses dalam mencari energi alternatif yaitu pengolahan kotoran sapi. Amerika Serikat dengan energi alternatifnya menggunakan pengolahan sari pati gandum dan jagung. Data terbaru adalah Kanada, negara ini telah berhasil mengolah rumput sebagai energi alternatif.

Bahan alternatif tersebut dapat dijadikan bahan pembuatan bioetanol. Bioetanol merupakan etanol (etil alkohol/C2H5OH) yang diproduksi dari bahan nabati atau tumbuhan. Tumbuhan yang dapat digunakan diantaranya yang mengandung pati (ubi kayu, jagung, sargum biji, sagu, dll); tanaman bergula (tebu, sargum manis, bit, dll); serta tumbuhan yang berselulosa (jerami, tahi gergaji, ampas tebu, dll). Jika dilihat dari bahan baku bioetanol, biaya produksi bioetanol lebih kompetitif dibandingkan minyak mentah. Namun penggunaannya belum maksimal, karena mesin yang menggunakan bahan bakar bioetanol murni belum digunakan secara menyeluruh.

Selama ini pemanfaatan bioetanol adalah sebagai bahan pencampur bensin yang dikenal sebagai gasohol. Dimana gasohol ini dapat meningkatkan angka oktan dari bahan bakar, sehingga tidak menimbulkan polusi dan ramah lingkungan. Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementrian Negara Riset dan Teknologi telah mentargetkan pembuatan minimal satu pabrik biodiesel dan gasohol (campuran gasolin dan alkohol) pada tahun 2005-2006. Selain itu, ditargetkan juga bahwa penggunaan bioenergi tersebut akan mencapai 30 hari pasokan energi nasional pada tahun 2025 (www.indobiofuel.com).

Pemasaran bioethanol di Indonesia sampai pertengahan Agustus 2006 telah dilakukan oleh Pertamina dengan total pemasaran bioethanol/hari sekitar 600.000 liter/hari untuk bioethanol (E5), meskipun masih terbatas di Kota Malang (EG Giwangkara S:2006). Pemasaran bioethanol ini sedikit terhambat karena terbatasnya persediaan bioetanol, sehingga Pertamina belum bisa dipasarkan secara luas.

Menghadapi keterbatasan persediaan bioetanol tersebut perlu dilakukan usaha pengembangan produksi bioetanol. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui biokonversi inulin dari umbi dahlia menjadi etanol. Biokonversi disini dimaksudkan untuk mendapatkan etanol yaitu dari umbi dahlia memalui bantuan makhluk hidup.

Dahlia (Dahlia sp. L.) merupakan tanaman bunga hias yang hidup di daerah pegunungan. Selama ini dahlia hanya dikenal sebagai tanaman hias yang berada di pekarangan tanpa memperdulikan kandungan yang terdapat pada bagian tanaman dahlia yang lain. Umbi dahlia belum pernah dimanfaatkan, kecuali sebagai bibit/biakkan. Namun beberapa tahun terakhir tanaman dahlia menyita perhatian para ahli pangan mengenai kandungan inulin pada umbi dahlia yang sangat besar yaitu mencapai 85% (S. Widowati, 2006).

Inulin merupakan polimer alami kelompok karbohidrat. Mononer inulin adalah fruktosa yang jumlahnya bervariasi tergantung sumbernya. Antara monomer fruktosa dihubungkan dengan ikatan β (2→1) fruktosil-fruktosa membentuk fruktan. Tiap ujung polimer inulin dapat hadir glukosa (Franck, 2003 dalam Minda Azhar 2007).

Untuk mendapatkan monomer fruktosa maka inulin dihidrolisis atau pemutusan ikatan β (2→1) fruktosil-fruktosa. Hidrolisis yang telah dilakukan adalah menggunakan asam dan enzim. Asam yang digunakan adalah asam klorida (HCl), asam oksalat (H2C2O4), asam trikloroasetat (TCA), dan asam triflouroasetat (TFA), sedangkan enzim yang digunakan adalah enzim inulinase. Hasil hidrolisis inulin menghasil monomer-monomer fruktosa dan sebagian kecil glukosa. Monomer ini difermentasi menjadi etanol dengan bantuan Saccharomyces cerrevisiae. Suhu yang baik untuk proses fermentasi ini berkisar antara 25-30C. Derajat keasaman (pH) optimum untuk proses fermentasi sama dengan pH optimum untuk proses pertumbuhan khamir yaitu pH 4,0 – 4,5 (Novitasari, 2008).

Kazuyoshi otha (1993) telah melakukan penelitian tentang produksi etanol dengan konsentrasi tinggi oleh sakarifikasi dan fermentasi menggunakan Aspergilus niger dan Saccharomyces cerevisiae. Hasil yang didapatkan adalah 20 sampai 21% (v/v) etanol dari inulin selama tiga hari pada suhu 30°C. Hayashida dalam Kazuyoshi otha (1993), menyebutkan produksi etanol dari pengolahan jagung 20,1% (v/v) selama 5 hari melalui proses sakarifikasi dan fermentasi. Hal ini menunjukkan inulin dari umbi dahlia memiliki potensial yang sangat besar dijadikan etanol sebagai sumber energi alternatif.

Dilihat dari segi lingkungan, tanaman dahlia merupakan salah satu tanaman yang memiliki bunga yang indah dan umbinya dapat dimanfaatkan menjadi energi alternatif yang ramah lingkungan. Bunga dari dahlia ini sangat bervariasi tergantung jenis dahlia yang ditaman, sehingga dapat dijadikan tanaman hias dihalaman

Keunggulan biokonversi inulin dari umbi dahlia menjadi etanol sebagai sumber energi alternatif adalah di bidang pertanian dapat membuka lahan pertanian yang baru bagi petani, pengangguran atau masyarakat umum. Dibidang ekonomi, tanaman dahlia selain umbi juga menghasilkan bunga yang dapat dikomersialkan. Proses biokonversi umbi menjadi etanol lebih mudah, murah, dan bahan baku mudah didapatkan. Dari segi lingkungan adalah tanaman dahlia dapat melestarikan fungsi lingkungan, menyimpan cadangan air, etanol yang dihasilkan memiliki keunggukan jika dicampurkan dengan bensin dan sebagai salah satu upaya meminimalisasi global warming.

Melihat keunggulan di atas, maka prospek biokonversi inulin dari umbi dahlia menjadi etanol sangat besar. Hal ini dapat menjadi peluang yang sangat menjanjikan oleh masyarakat Indonesia. Jika ditinjau dari segi iklim, Indonesia berpotensi mengembangkan tanaman ini. Tanaman dahlia dapat tumbuh baik dan produktif berbunga pada kondisi lingkungan yang beriklim sejuk (dingin). Tanaman dahlia di Indonesia dapat beradaptasi luas di dataran menengah (medium) sampai dataran tinggi (pengunungan). Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik di daerah yang berketinggian 560-1.400 m di atas permukaan laut, dengan kisaran suhu udara 14-18°C (minimum) dan 19-30°C (maksimum), serta curah hujan antara 1.900- 3.000 mm per tahun.

Namun, pertumbuhan dan produksi bunga sangat dipengaruhi oleh faktor suhu udara dan sinar matahari. Kondisi ideal untuk pertumbuhan tanaman dahlia adalah pada suhu 10-15°C pada tempat terbuka dan cukup mendapat sinar matahari. Indikator lingkungan tumbuh yang ideal untuk tanaman dahlia dapat dilihat dari kondisi iklim di daerah-daerah sentrum produksi bunga potong dan tanaman hias. Beberapa daerah di indonesia dapat dijadikan sentral penanaman tanaman dahlia. Di Indonesia, dahlia baru mulai dibudidayakan dalam jumlah besar untuk dimanfaatkan bunganya dengan sentra penanaman di Lembang dan Cianjur, Jawa Barat (S. Widowati. 2006).

Oleh karena itu, Indonesia memiliki prospek yang besar untuk pengembangan biokonversi inulin dari umbi dahlia menjadi etanol sebagai sumber energi alternatif, karena beberapa daerah memiliki iklim yang cocok dijadikan sentral tanaman dahlia. Selain itu, Umbi dahlia memiliki banyak keunggulan, terutama dalam upaya gerakan global warming. Jika ada alternatif yang lebih sehat, mudah, dan murah, kenapa tidak untuk melirik umbi dahlia.

(by. Echi)

About these ads
 
Komentar Dimatikan

Ditulis oleh pada 16 Mei 2011 in Artikel

 

Tag: , , , , , , , , ,

Komentar ditutup.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: