RSS

Sekeping Memori Hidup

08 Jun

Oleh Oktaviani Mutiara Dwiasri

Aku tidak bisa berhenti memandangi Incoming Calls di handphone‐ku. Dari sekian banyak nomor yang menghubungiku, aku hanya terpaku pada satu titik, satu tanggal, satu waktu, dan satu nama. Di layar itu tertulis nama Narangga James Syahputra. Suatu kebiasaanku dalam memberi nama di kontak handphone‐ku. Seseorang yang spesial akan kuberi nama dengan nama lengkapnya. Daripada harus memberi embel‐embel “beibi” atau “sayang” aku lebih prefer menuliskan nama lengkapnya.

Narangga James Syahputra, apanya aku ya? Pacar bukan, walaupun banyak yang bilang kita kayak pacaran. Sahabat pastinya, tapi aku gak mau kalau disamakan dengan sahabatnya yang lain. Yang jelas kita gak TTM‐an ataupun HTS‐an. Yah, absurd memang, tapi beginilah adanya. Kalau kata orang, tanda kita suka sama seseorang adalah kita merasakan geli‐geli di perut (butterfly effects) saat deketan sama dia ataupun deg‐degan, speechless, yang terpenting nyaman. Jujur, untuk yang pertama gue gak pernah tuh ngerasain, dan yang kedua dan yang ketiga juga jarang‐jarang. Nyaman, itu yang selalu gue rasa.

Hanya dengan Narangga James Syahputra aku punya dunia lain yang isinya hanya aku dan dia, yang peraturannya yang tahu hanya aku dan dia, hanya di sebuah ruang paralel itulah dia selalu bisa membuatku tersenyum, tidak ada kegundahan apalgi kesedihan. Entah sihir apa yang dimilikinya untuk bisa seperti itu. Senyumnya kah? Atau wajah teduhnya yang bisa berubah menjadi konyol dan bisa juga menjadi serius dalam sekejap mata? Satu yang aku bisa setujui dari opini orang tentangnya: dia, orang yang hampir sempurna dari semua orang yang tidak sesempurna Tuhan.

Melihat seorang Narangga James Syahputra dikelilingi cewekcewek yang tingkahnya naeh‐aneh dan dengan muka penuh cinta padanya sudah biasa. Dan melihat mereka jadi bête gara‐gara dia lebih meng‐appreciate kehadiranku sudah menjadi makananku belakangan ini. Aku tidak tahu apa yang ada di benak ataupun hatinya. Aku tidak pernah berharap dia yang kusayangi, dia yang punya sebuah aula besar di hatiku akan memberikan hatinya padaku. Sungguh, perasaan itu aku kubur dalam‐dalam.

Penyesalan selalu datang terakhir. Penyesalan. Rasa bersalah. Itu tidak dapat hilang dengan mudah di hatiku. Dua perasaan itu tercetak sempurna dan dalam di dalam hatiku saat hati ini masih basah oleh perasaan yang mungkin bersambut, seperti semen basah yang siap mengabadikan apapun. Seminggu yang lalu seorang Narangga James Syahputra mengucap satu dari sekian seri kata ajaib: kangen. Hari yang bersejarah. Dua hari kemudian aku minta diantar pulang olehnya dan disanggupinya, tak banyak bicara, terlalu menikmati momen itu. Dua hari setelahnya aku melakukan hal bodoh, dan itu membuatnya marah, aku terlebih dulu marah padanya. Hari setelahnya sungguh aneh, beku bagai es, seolah ada yang membatasi aku dan dia. Sesuatu yang membuat seluruh kata sulit terucap, sesuatu yang membuat aku menunda hal yang ingin aku lakukan. Esoknya, aku bertekad. Aku harus mengutarakan semuanya. Harus. Tidak ada waktu lagi.

Seharian itu aku bingung, apa yang harus kukatakan? Darimana aku akan memulai? Bagaimana kalau reaksinya tidak sesuai hharapan? Bagaimana kalau dia menjauh? Bagaimana kalau kita takk kan pernah sama lagi? Hanya Narangga James Syahputra yang bisa membuatku berpikir seperti itu.

Dia terlihat sudah lebih tenang, senyumnya untukku telah kembali. Harusnya itu membuatku lebih mudah untuk mengatakannya, tapi itu malah menyulitkanku. Akhirnya aku memutuskan aku akan mengatakannya sore ini. Aku undang dia ke rumahku, seperti yang dia inginkan.

Lagi, sore itu kami berselisih. Hal sepele memang, tapi itu membuatku marah. Dia benar datang, memang dia tidak pernah ingkar terhadap apapun yang dia janjikan. Aku terlalu marah dan membiarkannya berdiri begitu saja. Kebetulan, keluargaku sedang keluar kota, hanya aku dan kakakku. Telepon rumah tidak pernah aku angkat, handphone kubiarkan berdering kala dia memunculkan nama Narangga James Syahputra.

Hujan. Aku kasihan melihatnya, aku SMS dia menyuruh pulang. Dia berkeras akan tetap disitu sampai aku memaafkannya. Satu jam… Dua jam… Dia benar‐benar masih disana, basah kuyup. Aku tergerak, aku ambilkan handuk dan bergegas menyusulnya ke depan rumah. Aku terkejut, dia bawakan dua tangkai mawar putih dan sekotak coklat, dua dari tiga hal yang pasti akan membuatku berhenti marah padanya. Resah dan terkejut membuatku limbung hanya untuk bisa memegang payung dengan benar.

Selama menanti hujan mereda kata itu tak kunjung kuucapkan, yang kurasa hanya jeritan hati yang inginkan aku mendekapnya. Aku memilih membicarakan hal lain, yang ku tahu dia mengerti kalau aku telah memaafkannya. Suasana hangat kembali tercipta di dinginnya guyuran hujan.

Dia pamit pulang, masih menungguku mengucapkan kata‐kata itu. Aku tahu dia tahu, tapi sudah sifatnya seperti itu. Dan aku masih terlalu angkuh untuk membuka mulutku. Hanya untuk dua hal yang harus kuucapkan: maaf, dan perasaanku selama ini yang aku tahu dia juga rasakan.

Sepuluh menit berselang aku hanya mampu menulis SMS padanya berisikan satu kata: maaf. Aku menanti jawabannya, namun hal yang kunanti tak kunjung kudapat. Aku khawatir. Aku meneleponnya, berkali‐kali, tidak ada jawaban. Aku hubungi temantemanku yang mungkin ada bersamanya, nyatanya mereka tidak bersamanya.

19:47 sebuah telepon dari seseorang yang kunanti akhirnya datang. Aku berusaha menahan diri untuk tidak lepas kendali. Lalu hal itu berkembang menjadi: Aku harus menahan diri untuk tidak rubuh dan tetap sadar untuk memahami berita yang kudengar dari telepon itu. Aku hanya mampu menjawab: tidak mungkin.

Segera, aku menelepon temanku dan segera menuju rumah sakit yang diberitahukan orang asing di telepon itu. Aku tak sanggup untuk menanyakan nama Narangga James Syahputra saat kami sampai di UGD. Aku hanya berusaha mencari sosok yang kukenal terbaring di salah satu kasur rawat. Damn! Aku tidak menemukannya.

Petugas itu membawa kami ke belakang, hal yang aku tahu pasti itu sesuatu yang tidak baik. Ya, itu kamar jenazah. Aku berharap seorang ibu paruh baya yang tengah duduk di depan dan seorang perempuan muda di sampingnya bukanlah ibu dan kakaknya. Namun aku salah, temanku langsung disambut hangat oleh kakaknya.

Aku tidak bisa berkata‐kata, senyumpun aku paksakan terkembang karena melihat kakaknya begitu sabar. Saat kullihat dia telah tebujur kaku di ruangan itu, aku hanya mampu mengucap: Astagfirullah Angga… Dan tidak mampu menitikkan air mata yang bahkan telah membendung di pelupuk mata. Aku berusaha kuat dan tetap berdiri. Aku mengucap tanpa suara: Narangga James Syahputra, maafin aku.. Maaf.. Aku sayang kamu.. Please kamu bangun lagi dan bilang kamu cuma bercanda. Bilang kamu cuma mau bikin aku panik. Bangun…

Tapi, apa yang telah takdir tuliskan tidak bisa kita hapus dan tulis sesuai kemauan kita. Apa yang telah menjadi kehendak‐Nya, tidak dapat kita bantah. Aku menangis sejadi‐jadinya. Mengulang kata yang sama dari balik pundak temanku dengan terisak.

Sampai hari ini, sudah setahun semenjak hari itu, sesal dan rasa bersalah itu terkadang masih menghinggap di hati. Aku berusaha jalani hidup, tapi tetap tak bisa dan tak mau hilangkan dia dari hidupku. Karena dia selalu ada disampingku. Satu hal yang aku tahu pasti: Ikuti kata hati saat ia telah begitu menginginkanmu melakukan suatu hal. Hatimu tak pernah salah, karena itu yang kau mau. Sekarang atau nanti, saat kau tak bisa lagi dan menyesal.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Juni 2011 in Kisah Inspiratif

 

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: