RSS

MENGINTEGRASIKAN ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA (ANRI) DALAM PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA

18 Okt

Oleh, Rahmi Marfa Lesy

Dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 disebutkan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan fungsi  ini maka terdapat beberapa kecakapan hidup yang diharapkan dapat dimiliki oleh peserta didik setelah menempuh suatu proses pendidikan.

Namun kondisi pendidikan Indonesia saat ini sangat memprihatinkan, fungsi pendidikan tersebut telah jauh dari harapan yang sesungguhnya. Hal ini dapat terlihat dari prilaku-prilaku menyimpang dari peserta didik, diantaranya: terjadinya tauran, seks bebas, penggunaan obat-obat terlarang,  pergaulan bebas, tidak adanya kesantunan kepada orang yang lebih tua,  dan sebagainya.  Terjadinya prilaku yang menyimpang ini sebenarnya mengakar pada merosotnya mutu pendidikan yang akan berakibat menurunnya kualitas moral.

Perbaikan mutu pendidikan akan menjadi solusi untuk perbaikan moral dan karakter bangsa. Pendidikan yang bermutu mampu menawarkan berbagai program yang relevan dan memiliki dampak secara berkelanjutan, termasuk upaya preventif untuk mencegah degradasi moral dalam masyarakat. Dalam kaitan itu, Menteri Pendidikan Nasional merancang pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai salah satu program unggulan.

 

PENDIDIKAN KARAKTER DAN KARAKTER BANGSA

Karakter merupakan nilai-nilai yang unik-baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik dan nyata berkehidupan baik) yang terpatri dalam diri dan terejawatahkan dalam prilaku (Pemerintah RI, 2007:7). Secara koheren, karakter memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa. Karakter merupakan ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengandung nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan.

Peserta didik akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter, sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang secara optimal. Tentunya hal ini memerlukan usaha yang menyeluruh yang dilakukan oleh semua pihak; keluarga, sekolah dan seluruh komponen yang terdapat dalam masyarakat, seperti lembaga keagamaan, perkumpulan olahraga, komonitas, bisnis, dan sebagainya. Oleh karena itu pendidikan karakter harus dilakukan secara eksplinsit (terencana), terfokus, dan komprehensif, agar penentuan masyarakat yang berkarakter dapat terwujud.

Sebenarnya pendidikan karakter bukan menjadi hal yang baru lagi, pendidikan karakter sudah ada semenjak dunia pendidikan ada. Dimana dalam pendidikan karakter dimuat nilai-nilai moral dalam proses pembelajaran. Nilai-nilai moral ini tidak akan terlepas dari tiga ranah yaitu: ranah kognitif (pikiran, pengetahuan, kedasaran) ranah afektif (perasaan) dan ranah spikomotor (prilaku). Ranah kognitif akan tercermin dalam kapasitas berfikir dan daya intelektualisa untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Ranah afektif akan tercemin pada kualitas keimanan, ketaqwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis. ranah spikomotor akan tecermin dalam kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapan praktis dan kompetensi kinestetis.

Moral atau karakter manusia tidak dapat ditumbuh-kembangkan secara cepat dan segera, tetapi merupakan suatu proses yang panjang dan cermat. Berdasarkan perkembangan persperktif yang berkembang dalam sejarah pemikiran manusia, pendidikan karakter harus dilakukan berdasarkan tahap-tahap perkembangan anak sejak dini sampai dewasa. Berdasarkan pemikiran spikolog Kohlberg (1992) dan ahli pendidkan dasar Marlene Lockheed (1990), terdapat empat tahapan pendidikan karakter yang perlu dilakukan (gambar1): (a) tahap pembiasaan sebagai awal perkembangan karakter bagi anak, (b) tahap pemahaman dan nalar terhadap nilai, sikap, prilaku, dan karakter siswa, (c) tahap aplikasi pendidikan karakter melalui penerapan berbagai prilaku dan tindakan siswa dalam kegiatan sehari-hari, dan (d) tahap  pemaknaan yaitu suatu  tahap refleksi dari siswa melalui penilaian terhadap seluruh sikap dan prilaku yang telah mereka pahami dan lakukan, serta bagaimana dampak dan kemafaatannya dalam kehidupannya sendiri dan orang lain (Suryadi, 2010: 419). Jika seluruh tahapan terpenuhi, maka dampak pendidikan dalam pembentukan karakter akan berdampak secara berkelanjutan.

 Gambar 1. Empat tahapan dalam pendidikan karakter

 

Pendidikan berkarakter memberikan banyak dampak positif terhadap peserta didik. Selain membuat peserta didik mempunyai akhlak yang mulia, pendidikan karakter dapat meningkatkan keberhasilan akademik. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kaitan erat antara keberhasilan pendidikan karakter dengan keberhasilan akademik, sarat prilaku pro-sosial peserta didik, sehingga dapat membuat susana sekolah menjadi menyenagkan dan kondusif untuk proses belajar mengajar yang efektif (Megawangi, 2004:38). Disamping itu, peserta didik yang berkarakter baik mempunyai kematangan emosi dan spiritual tinggi, sehingga mereka dapat mengelola stresnya dengan lebih baik dan akhirnya dapat meningkatkan kesehatan fisik.

Bedasarkan dampak positif yang ditimbulkan oleh pendidikan karakter akan berdampak positif terhadap karakter bangsa. Sesuai program yang telah dirancang pemerintah dalam pembagunan karakter bangsa. Pembagunan karakter bangsa merupakan salah satu upaya kolektif-sitemik suatu Negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang dan negaranya sesuai dengan dasar dan ideology, konstitusi, haluan Negara, serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional, regional, dan global yang berkeadaban (Pemerintah Republik Indonesia, 2010:7). Semuanya itu bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, berbudi luhur, bertoleran, bergotongroyong, berjiwa patriotic, berkembang dinamis, berorientasi ipteks yang semuanya dijiwai oelh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pembangunan karakter bangsa ini memiliki tiga fungsi pokok. Pertama, fungsi pembentukan dan pengembangan potensi agar warga Negara Indonesia berfikir baik, berhati baik, dan berprilaku baik sesuai dengan falsafah hidup pancasila. Kedua, fungsi perbaikan dan penguatan. Pembangunan karakter bangsa berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, mayarakat, dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bartanggung jawab dalam pengembangan potensi warga Negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera. Ketiga, fungsi penyaring, yaitu memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.

Ketiga fungsi di atas dapat dilakukan melalui (1) pengukuhan pancasila sebagai falsafah dan ideologi Negara, (2) pengukuhan nilai dan moral konstitusional UUD 1945, (3) penguatan komitmen kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), (4) penguatan nilai-nilai keberagamaan sesuai dengan konsepsi Bhineka Tunggal Ika, dan (5) penguatan keunggulan dan daya saing bangsa untuk keberlanjutan kehidupan bermaysarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia dalam konteks global. Sesuai dengan kelima dasar ini dalam mencapai tujuan dan fungsi pembangunan karakter bangsa dapat dilakukan semenjak dini kepada peserta didik. Salah satunya upaya yang dapat dilakukan adalah mengintegrasikan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dalam pendidikan karakter.

 

PERAN ANRI DALAM PENDIDIKAN KARAKTER

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) adalah lembaga kearsipan berbentuk Lembaga Pemerintahan Non Kementerian (LPNK) yang melaksanakan tugas negara di bidang kearsipan yang berkedudukan di ibukota negara. Penyelenggaraan kearsipan secara nasional menjadi tanggung jawab ANRI. Penyelenggaraan kearsipan nasional meliputi kebijakan, pembinaan kearsipan, dan pengelolaan. Pengelolaan arsip yang dimaksud adalah pengelolaan arsip dinamis dan arsip statis.

Dalam upaya mengoptimalisasikan peran ANRI, maka perlunya mengintegrasikan ANRI ke dalam pendidikan karakter. Mengintergarasikan ANRI ke dalam pendidikan karakter maksudnya adalah menyatukan ANRI ke dalam pendidikan karakter. Dimana di dalam pembelajarannya guru akan menyampaikan ANRI sebagai salah satu materi pembelajaran yang penting. Selain untuk memperoleh makna dari ANRI itu sendiri, mengintegrasikan ANRI ini dapat menjelaskan sejarah-sejarah yang belum diketahui peserta didik, sehingga peserta didik merasa memiliki dan  bangga terhadap bangsanya sendiri.

Menurut Muslich (2011:107) terdapat beberapa pendekatan pembelajaran dalam pendidikan karakter: (1) Pendekatan Penanaman nilai (Inculcation Approach), (2) Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach), (3) Pendekatan analisis nilai (value analysis approach), (4) Pendekatan klarifikasi nilai (value clarification approach), dan (5) Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach). Dari kelima pendekatan di atas, pendekatan yang dapat diaplikasikan dalam upaya optimalisasi peran ANRI adalah pendekatan analisis nilai.

Pendekatan analisis nilai memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan siswa untuk berfikir logis, dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial.  Beberapa tujuan utama pendidikan moral dari pendekatan ini adalah, pertama, membatu peserta didik menggunakan kemampuan berfikir logis dan penemuan ilmiah dalam menganalisis masalah-masalah sosial yang berhubungan dengan nilai tertentu. Dua, membantu siswa untuk menggunakan proses berfikir rasional dan analitik dalam menghubung-hubungkan dan merumuskan konsep tentang nilai-nilai mereka. Pembelajaran dapat dilakukan secara individu maupun kelompok.

Menurut pendekatan ini, ada enam langkah analisis nilai yang penting dan perlu diperhatikan dalam pendidikan karakter. Enam langkah tersebut diantaranya: (1) mengidentifikasi dan menjelaskan nilai yang terkait, (2) mengumpulkan fakta yang berhubungan, (3) menguji kebenaran fakta yang berkaitan, (4) Menjelaskan kaitan antara fakta yan bersangkutan, (5) merumuskan keputusan moral sementara, (6) menguji prinsip moral yang digunakan dalam mengambil keputusan (Muslich, 2011:116).

Pembelajaran pendidikan karakter melalui pendekatan ini peserta didik diberikan data-data atau dokumen arsip nasional, kemudian peserta didik menganalisa nilai yang terkandung dalam data/dokumen tersebut. Salah satu contoh desain pembelajaran yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: (a) Pembagian kelompok peserta didik menjadi beberapa kelompok kecil, (b) Guru memberikan kasus sejarah atau memutar video, sebagai contoh video proses proklamasi kemerdekaan. (c) Masing-masing kelompok menganalisis nilai berdasarkan keenam langkah anallisis yang telah dijabarkan di atas. (d) Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusi mereka di depan kelas (e) Guru bersama peserta didik menyimpulkan nilai dan makna yang dikandung dalam video proses proklamsi yang telah diputarkan.

Dalam proses pembelajaran ini sangat efektif digunakan, karena tahapan tertinggi dalam pendidikan karakter telah tercapai, yaitu peserta didik telah mampu memberi makna  atau penilaian terhadap video yang telah mereka saksikan. Hal ini didukung dengan pernyataan bahwa pengalaman belajar dapat diperoleh peserta didik melalui: 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar 70% dari apa yang kita katakan, 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan. Dengan demikian 90% pengalaman belajar mampu didapatkan peserta didik.

Mengintegrasikan ANRI dalam pendidikan karakter melalui pendekatan analisis nilai memiliki beberapa keunggulan. Pertama, mengasah kemampuan peserta didik dalam menganalisis sutu peristiwa dalam sejarah dan mengidentifikasi nilai yang terkandung didalamnya. Hal ini akan meningkatkan kemampuan kkognitif dari peserta didik. Kedua, proses pembelajaran dilakukan secara sistematis. Langkah pembelajaran diarahkan guru dari tahapan awal mengidentifikasi sampai tahapan pengambilan keputusan.Pembelajran ini telah mengkombinasikan ranah kognitif, afektif dan spikomotor peserta didik.  Ketiga,  menanamkan nilai nasionalisme peserta didik. Peserta didik bangga menjadi bangsa Indonesia dengan sejarah, kebudayaan dan keberagaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mengintegrasikan ANRI dalam pendidikan karakter melalui pendekatan analisis  merupakan salah satu bentuk upaya dalam pembangunan karakter bangsa. Diharapkan dengan adanya integrasi ANRI dalam pendidikan karakter ini mampu mewujudkan pencapaian tujuan Pendidikan Nasional yang sesungguhnya.

 

REFERENSI

Pemerintah Republik Indonesia. 2010. Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2015. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.

Megawangi, Ratna. 2004. Pendidikan Karakter: Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa. Jakarta: BP Migas & Star Energi (Kakap) Ltd.

Muchlis, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Suryadi, Ace. 2010. Sebuah Model Pendidikan Karakter Dalam Sistem Persekolahan di Indonesia. Konferensi Internasional Pendidikan Guru Ke-4 (UPI-UPSI) 8-10 November 2010. Bandung: Universitas Negeri Bandung

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Oktober 2011 in Artikel

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: